Selasa, 08 Maret 2011

Present Perfect

1. Mr. Harris has taught Enghlish at this school for five years.
2. I have written three or four letters to that company.
3. The student in the class have done those two lesson already.
4. I have knew Professor Moore for more than twelve years.
5. Richard has took three course in Enghlish at this school.
6. Those steps are dangerous. I have fell on them several times.
7. Mr. Kramer have been in the United States for three years.
8. The janitor has already shut to the back door.
9. The students have read all of the stories in that book.
10. Marjorie has chosssen ad pretty dress in the party.
11. I have spoke to my boss about the problem several times.
12. Tat tree has grown at least five feet since last year.
13. Miss King has spent over eighteen hundred dollar since May.
14. Mr. and Mrs. Smith have bought a new house in the North Plains.
15. The real estate agent have sold the Smith’s old house.
16. Charles has had a bad cold for a whole week.
17. I’m sorry, I have forgot for that name book.
18. We have already heard that new song several times.
19. Mr. Wilson insn’t here. He has gone out of town for the weekend.
20. Mr. Kennedy has wore his blue suit to the office only twice.
21. I have sat in this same seat since the first day of classes.
22. The money in isn’t in this drawer. Someone have stolen it!
23. Up to now, I have understood every lesson in the book.
24. We have had absolutely no trouble with our car so far.
25. No one have found that’s girls purse and gloves yet.
26. The weather have been very warm ever since last Thursday.
27. Mr. Anderson and Mr. Brown have had lunch already.
28. I have seen the EmpireState Building hundreds of times.
29. We have already spoke to the director and has given him the messages.
30. Grandmother has never flown in an airplane before.
31. You have tore your shirt! There’s a hole in the left sleeve.
32. I have already read the costumer’s letter and have written a reply for him.

50 Irregular Verbs

Infinitive  Past Tense  Past Participle = Makna

1. abide  abode  abode = tinggal
2. arise  arose  arose = muncul
3. awake  awoke/awaked  awoke/awaked = membangunkan
4. be  was, were  been = ada
5. bear  bore  borne, born = menderita
6. beat  beat  beaten = memukul
7. become  became  become = menjadi
8. befall  befell  befallen = menimpa
9. begin  began  begun = memulai
10. behold  beheld  beheld = melihat
11. bend  bent  bent = membengkok
12. bereave  bereft  bereft = merampas
13. beseech  besought  besought = memohon
14. betake  betook  betaken = pergi
15. bid  bade  bidden = mengundang, memohon
16. bind  bound  bound = mengikat
17. bide  bode  bidden = menawarkan
18. blow  blew  blowen = menghembus
19. break  broke - broken = mematahkan, memecahkan
20. breed  bred  bred = memelihra
21. build  built  built = membangun
22. bring  brought  brought = membawa
23. burn  burnt  burnt = membakar
24. buy  bought  bought = membeli
25. catch  caught  caught = menangkap
26. come  came  come = datang
27. dig  dug  dug = menggali
28. do  did  done = berbuat
29. draw  drew  drawn = menggambar
30. drink  drank  drunk = minum
31. drive  drove  driven = mengendarai
32. eat  ate  eaten = makan
33. fall  fell  fallen = jatuh, turun
34. feel  felt  felt = merasa, merasakan
35. find  foud  found = mendapat
36. fly  flew  flown = menerbangkan
37. forget  forgot  forgotten = lupa, melupakan
38. get  got  got = mendapatkan
39. give  gave  given = memberi
40. go  went  gone = pergi
41. know  knew  known = mengetahu, mengerti
42. meet  met  met = bertemu
43. make  made  made = membuat
44. pay  paid  paid = membayar
45. redo  redid  redone = memperbaiki ulang
46. sleep  slept  slept = tidur
47. tell  told  told = menceritakan, memberitahukan
48. win  won  won = memenangkan
49. wring  wrung  wrung = memulai
50. write  wrote  written = menulis

30 Things In My Desk

1. Pen = Pulpen
2. Pencil = Pensil
3. Eraser = Penghapus
4. Coloring pencil = Pensil warna
5. Stabillo = Stabilo
6. Dictionary = Kamus
7. Laptop = Komputer jinjing
8. Internet modem = Modem internet
9. Mouse = Mouse
10. Calculator = Kalkulator
11. Books = Buku buku
12. Magazine = Majalah
13. Novel = Novel
14. A vas of flowers = Bunga bunga dalam vas
15. Mini lamp = Lampu kecil
16. Handphone = Ponsel / telepon genggam
17. Earphone = Earphone
18. Newspaper = Koran
19. Glue = Lem
20. Scissor = Gunting
21. Small mirror = Cermin kecil
22. Papers = Kertas-kertas
23. Flashdisk = Flashdisk
24. Glass = Gelas
25. Note book = Buku catatan
26. Printer = Printer
27. Purse = Dompet
28. Shavings = Serutan pensil
29. Handclock = Jam tangan
30. Working paper = Makalah

50 Things In The Office

50 Things In The Office


1. Table = Meja
2. Chair = Kursi
3. Computer = Komputer
4. Keyboard = Keyboard
5. Mouse = Mouse
6. Internet modem = Modem internet
7. Printer ink = Tinta printer
8. Printer= Printer
9. Television = Televisi
10. Radio = Radio
11. Music Player = Pemutar musik
12. Magazine = Majalah
13. Newspaper = Koran
14. Cutter = Silet
15. Pen = Pulpen
16. Pencil = Pensil
17. Eraser = Penghapus
18. Map = Peta
19. Telephone = Telepon
20. Faksimile = Mesin fax
21. Bag = Tas
22. Calculator = kalkulator
23. Papers = Kertas kertas
24. Books = Buku buku
25. Flower vase = Vas bunga
26. Wall clock = Jam dinding
27. Photo frame = Bingkai foto
28. Bookcase = Lemari buku
29. Handphone = Ponsel
30. Blanket = Tempat sampah
31. Lamp = Lampu
32. Electric switch = Saklar listrik
33. Table lamp = Lampu meja
34. Mirror = Cermin
35. Curtain = Tirai
36. Pencil case = Kotak pensil
37. Camera = Kamera
38. A glass of water = Segelas air
39. Dispenser = Dispenser
40. Lem : Glue
41. Air Conditioner = Pendingin udara (AC)
42. White board = Papan tulis
43. Marker = Spidol
44. Nameplate = papan nama
45. Ornamental plants = Tanaman hias
46. Door = Pintu
47. Window = Jendela
48. Calender = Kalender
49. Cubicel = Bilik kerja
50. Buku tulis : Writebook

Rabu, 27 Oktober 2010

Pungutan Liar didunia Pendidikan

Indah Wahyuningtyas
11207270
4EA04

Pungutan liar di dunia pendidikan

Latar Belakang
Pendidikan saat ini sangat mahal biayanya. Untuk itu pemerintah mempunyai program untuk meringankan beban masyarakat Indonesia agar tetap fokus pada pendidikan dan mengurangi beban biaya pendidikan. Pemerintah sudah meluncurkan program BOS untuk tingkat SD dan SMP. Meskipun demikian, pendidikan di Indonesia masih dilingkupi rasa keprihatinan begitu mendalam atas berbagai kasus yang menggelayuti dunia pendidikan kita. Mulai kasus minimnya pemerataan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang pendidikan, kualitas pendidik, mengakarnya praktek tauran antar pelajar atau mahasiswa sekalipun, mendarah dagingnya tradisi pembocoran lembar soal dan jawaban oleh segelintir guru beserta kepala sekolah saat ujian nasional (UN) tiba demi ambisi dan pencitraan sekolah, sampai terjadinya tindakan kekerasan.
Dengan demikian, segala elemen yang berkaitan dengan kualitas pendidakan, mulai dari emosional, spiritual, intelektual harus melekat dalam pribadi pendidik dan anak didik serta pengambilan keputusan sistem pembelajaran. Pelaku didunia pendidikan belum dapat membawa perubahan positif pada masyarakat Indonesia yang lebih baik dan arif, maka wajar bila praktik belajar-mengajar secara jelas telah terkalahkan oleh kekerasan. Carut-marutnya praktik pungutan liar pun telah mencoreng dunia pendidikan kita. Haruskah, kita tetap mempertahankan perayaan turun temurun itu? Sudikah sistem pendidikan kita jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga?

Masalah
Sungguh mengerikan dan ironis tentang masalah yang terjadi di dunia pendidikan ini. Di tengah-tengat gencarnya upaya pemberantasan buta huruf, menggencarkan wajib sekolah sembilan tahun dan tanpa dipungut biaya bagi kalangan tertentu. Nyatanya, masih banyak lembaga pendidikan tertentu yang akrab dengan budaya pungutan liar. Alih-alih peningkatan kualitas. Padahal menuntut ilmu secara formal merupakan sektor strategis dan kunci bagi bangsa ini untuk menapakan kaki ke arah kehidupan bangsa yang lebih baik.
Pungutan liar biasanya dijumpai pada awal ajaran baru. Contohnya pasca penerimaan murid baru di tingkat SD dan SMP marak terjadi beberapa daerah. Besarnya pungutan beragam mulai dari 450 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. Hal itu terungkap ketika puluhan orang tua murid mengadukan adanya pungutan liar ke Posko Pengaduan Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang dibuka Indonesia Corruption Watch (ICW) di beberapa daerah.
Pungutan liar tersebut, biasanya banyak terjadi setelah siswa diterima di sekolah. Bukan pada saat proses penerimaan siswa baru. Bentuk pungutan tersebut dapat bermacam-macam, mulai dari uang bangunan, uang buku, uang pensiun guru, dan sebagainya. Jika sekolah tidak menyampaikan pertanggungjawaban, maka itu masuk ke dalam pungutan liar.
Banyaknya pungutan liar disekolah, terjadi karena tidak terbukanya sistem pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS). Padahal, untuk jenjang sekolah SD dan SMP, tidak diperkenankan memungut biaya apa pun yang terkait untuk biaya operasional sekolah karena sudah ada Bantuan Operasional Siswa (BOS).

Hipotesis dan Asumsi
Hipotesis dari masalah etika bisnis ini tergambar dari latar belakang dan masalah, yaitu mengenai pungutan liar di sekolah-sekolah yang disebabkan karena kurangnya keterbukaan sistem pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS). Setiap lembaga atau sektor-sektor harus memiliki sifat transparansi demi adanya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut.
Asumsi dari masalah pungutan liar disekolah ini perlu dipertanyakan kemudian adalah komitmen pemerintah mengenai kebijakan di bidang pendidikan. Selama ini, sangat terasa janggal di mana subsidi pendidikan lebih kecil daripada subsidi militer. Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah kurang mendukung kecerdasan warga negaranya yang bisa muncul melalui pendidikan.

Landasan Teori
Etika bisnis adalah penerapan prinsip prinsip etika yang umum pada suatu wilayah perilaku manusia yag khusus, yaitu kegiatan ekonomi dan bisnis.
Sepanjang sejarah perkembangan teori etika bisnis, telah berkembang banyak teori teori yang menjadi landasan dalam pegambilan keputusan, sehingga justifikasi dari berbagai perbuatan moral juga akan menjadi berbeda. Hal tersebut menyebabkan terjadinya banyak diskusi bagi para teoritis, walaupun dalam praktek nantinya, teori teori tadi akan menuju ke tujuan pemecahan masalah yang sama pula.
Beberapa teori yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah di atas adalah sebagai berikut :
1. Utilitarisme
Menurut teori ini, suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang, melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, utilitarisme ini tidak boleh dimengerti dengan cara egoistis. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran utilitarsme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the great number, kebahagian terbesar dari jumlah orang terbesar. Perbuatan yang sempat mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik. Dapat dipahami pula kalau utilitarisme sangat menekankan pentingnya konsekuensi perbuatan dan menilai baik buruknya. Kualitas suatu moral ditentukan oleh konsekuensi yang dibawa olehnya. Selain disebut sebagai teori konsekuensilialisme, teori ulitarisme ini juga disebut sebagai teori teleologis, sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya tujuan perbuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan apa apa, menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik.
2. Deontologi
Jika utilitarisme menggantungkan moralitas perbuatan pada konsekuensinya, pada deontologi melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan. Yang menjadi dasar dari baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Sadar atau tidak, orang yang beragama, berpegang pada teori deontologi. Karena pegangan deontologi, setidak tidaknya dengan implisit, sudah diterima dalam konteks agama, dan sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang penting.
3. Teori Hak
Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Tetapi, kini teori hak telah memiliki pendekatannya tersendiri. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu, teori ini cocok untuk pemikiran yang demokratis.
4. Teori Keutamaan
Teori keutamaan memandang sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan tidak boleh dibatasi dari taraf pribadi saja, melainkan harus ditempatkan dalam konteks komuniter.
Dan dilihat dari kelima teori diatas, bisa diperhatikan bagaimana masalah yang terjadi pada semangat Go Green yang terjadi pada saat ini, telah dijadikan sebagai sebuah daya tarik baru dalam dunia pemasaran dan inovasi suatu produk.
Diperhatikan dari teori utilitarisme yang berlandaskan pada manfaat, maka dari segi produsen, maka perbuatan yang dilakuakan ini bisa dianggap benar. Namun, jika diperhatikan dari segi konsumen yang lebih luas, perbuatan ini bisa dianggap melanggar etika. Karena si produsen hanya mementingkan keuntungan perusahannnya semata dengan memanfaatkan trend semangat Go Green, tapi hanya sebagai slogan, dan produsen tadi telah melakukan Greenwashing yang hanya mengumbar umbar semangat tanpa realisasi. Terlihat tanpa manfaat dari segi umum. Dan dari teori deontologi yang berdasarkan pada masalah Greenwashing di atas, perbuatan itu bisa dikatakan sebagai melanggar moral karena dalam segi agama, Greenwashing tidaklah tepat dilakukan. Kemudian diperhatikan dari teori hak, maka si produsen memiliki kewajiban untuk bersikap jujur pada konsumennya, sementara si konsumen memiliki hak untuk memilih dan memahami apakah semangat Go Green yang dihembuskan oleh si produsen adalah jujur atau hanya sebagai inovasi untuk menarik konsumen semata. Kemudian teori terakhir adalah teori keutamaan yang berlandaskan pada akhlak seseorang untuk kepentingan orang banyak. Maka Greenwashing akan dipertanyakan sebagi sesuatu yang benar atau salah. Semua dikembalikan pada hati nurani.
Penutup
Kesimpulan
Minimnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan maka kini bertebaranlah mental-mental "rapuh" yang muncul dalam perilaku korupsi pada pribadi-pribadi pejabat bangsa ini. Korupsi yang merambah ke semua sektor, termasuk sektor pendidikan sendiri, kini seolah menjadi "benang basah yang sulit ditegakkan". Bahkan, hingga hari ini penyelenggaraan pendidikan sering kali mempraktikkan tindakan tercela dalam berbagai kegiatan sekolah dan proyek-proyek lainnya.
Saran
Untuk itu demi perubahan yang baik disektor pendidikan Indonesia dan disektor-sektor lain demi generasi penerus bangsa dan kemajuan bangsa, pemerintah harus memiliki peraturan yang tegas untuk dunia pendidikan. Pemerataan fasilitas sekolah, tunjangan yang layak bagi para guru atau pengajar, sistem pembelajaran yang baik. Apabila hal itu sudah teratasi maka akan meminimalisir atau dapat menghilangkan budaya pungutan liar di sekolah. Pemerintah juga harus mengusahakan agar biaya pendidikan tetap murah tanpa pungutan-pungutan wajib bahkan pungutan liar.
Dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol perilaku korupsi yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam sektor pendidikan itu sendiri karena dana yang sedikit akan mudah diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah diskriminasi terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa dihindarkan. Singkat kata, dengan penyelenggaraan pendidikan murah, orang miskin tidak lagi dilarang untuk sekolah.

Minggu, 09 Mei 2010

proposal penelitian

1.1 Latar Belakang

Pada umumnya sebagian besar perusahaan– perusahaan banyak mengalami
perkembangan dalam bidang usahanya. Hal tersebut disebabkan karena didukung oleh kegiatan yang dilakukan perusahaan. Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan, hal itu dilakukan karena kegiatan perusahaan tersebut. Salah satu kegiatannya adalah dengan melaksanakan penjualan yang optimal. Naik turunnya penjualan yang dicapai dapat dipergunakan sebagai alat ukur berkembangnya perusahaan. Dan naik turunnya penjualan yang dicapai dapat dipergunakan sebagai alat pengukur (success indicator) maju mundurnya perusahaan. Penjualan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan.
Dalam menjalankan aktvitas perusahaan banyak terdapat peluang baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Akan tetapi peluang yang datang pada suatu perusahaan tidak selamanya menghasilkan peluang yang baik atau menghasilkan keuntungan yang baik.
Untuk menghindari dan meminimalisasi kerugian penjualan dimasa ketidakpastian di waktu yang akan datang, maka perusahaan melakukan suatu kegiatan peramalan. Peramalan sangat di perlukan dalam suatu perusahaan, agar perusahaan tersebut dapat memperhitungkan berapa tingkat angka penjualan dapat terjual dengan target yang di inginkan perusahaan. Apakah target penjualan sudah sampai pada target penjualan yang di inginkan atau belum. Peramalan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan dimasa yang akan datang dengan melihat data-data pada masa lalu.
Peranan peramalan dalam ekonomi bisnis sangat penting. Pertama untuk mengkaji kebijakan perusahaan yang berlaku saat ini dan dimasa lalu serta melihat sejauh mana pengaruhnya dimasa datang. Kedua, dengan adanya peramalan maka dapat dipersiapkan program dan tindakan perusahaan untuk mengantisipasi keadaan dimasa akan datang, sehingga resiko kegagalan dapat diminimumkan.
Dari uraian-uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil tema penulisan ini dengan judul “Analisis Peramalan (Forecasting) Terhadap Penjualan Tiket Umroh Pada “PT. RONALDHITYA Tour & Travel”. Mengingat pentingnya metode ini pada Penjualan diharapkan akan memberikan dampak yang baik bagi perusahaan dan mengoptimalkan semaksimal mungkin penjualan yang akan dilakukan.

1.2 Rumusan dan batasan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, yaitu masalah yang berhubungan dengan penjualan, dapat dilihat bahwa perusahaan melakukan peramalan (forecasting), hal ini mungkin disebabkan adanya untuk mengetahui kejadian yang akan datang, untuk itu penulis berusaha merumuskan masalah untuk mengetahui peramalan pada PT. RONALDHITYA pada bulan Februari 2009 sampai September 2009. Maka penulis merumuskan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi peramalan penjualan tiket umroh pada bulan Maret 2010 dengan menggunakan metode Moving Average ( MA ) ?
2. Bagaimana kondisi peramalan penjualan tiket umroh pada bulan Maret 2010 dengan menggunakan metode Weight Moving Average ( WMA ) ?
3. Bagaimana kondisi peramalan penjualan tiket umroh pada bulan Maret 2010 dengan menggunakan metode Exsponential Smoothing ( ES ) ?

1.2.2 Batasan Masalah
Untuk mempersempit masalah yang akan dibahas maka dalam penelitian ini masalah hanya peramalan terhadap penjualan tiket umroh bulan Oktober 2009 dengan menggunakan metode moving average 3 bulan, weight moving average 3 bulan dengan bobot 50%, 30%, 20%.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui peramalan penjualan tiket umroh yang akan dicapai oleh PT.RONALDHITYA pada bulan Oktober 2009.
2. Untuk mengetahui apakah metode yang digunakan pada penelitiaan ini sesuai dengan data yang dimiliki oleh PT. RONALDHITYA.
3. Untuk mengetahui pengaruh analisa peramalan terhadap perencanaan kegiatan perusahaan PT. RONALDHITYA.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis sendiri, agar dapat menambah wawasan secara lebih mendalam mengenai topik yang dibahas.
2. Secara langsung bagi PT. RONALDHITYA sendiri agar dapat mengambil langkah-langkah untuk melihat peluang dimasa depan, langkah itu dapat dilihat dari peramalan terhadap penjualan barang.
3. Secara langsung bagi pembaca (masyarakat), atau mahasiswa lain yang berhubungan langsung ataupun tidak, dapat mengetahui perkembangan perusahaan dengan memperhatikan ramalan penjualan.

1.5 Metode Penelitian

Adapun metode yang dilakukan penulis dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut :

1.5.1 Objek penelitian
Objek dari penelitian ini adalah PT. RONALDHITYA yang berlokasi di Jl. KH Abdullah Syafei No.33. Casablanca, Jakarta.
Dengan bidang usaha : Penjualan tiket haji dan umroh dan travel.

1.5.2 Data / Variabel
Adapun data yang digunakan penulis adalah data yang terdiri dari data primer dan data sekunder.Adapun data primer yang penulis dapatkan adalah dari perusahaan antara lain: profil perusahaan, data penjualan bulan Februari 2009 sampai September 2009. Dan data sekunder didapat melalui buku-buku bacaan dan literatur-literatur yang berhubungan dengan topik penulisan ilmiah ini.
1.5.3 Metode pengumpulan data / variable
Metode pengumpulan data yang digunakan penulis yaitu dengan cara sebagai berikut :

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Dengan membaca literatur-literatur yang relevan dengan tema penulisan.dan dalam penelitian ini penulis juga menggumpulkan data yang bersifat teoritis serta informasi dari bermacam-macam sumber yang akan digunakan sebagai referensi dan juga catatan-catatan mata kuliah yang berhubungan langsung dengan topik penelitiaan ini.

2. Penelitian Lapangan
a. Metode Observasi (tinjauan)
Penulis melakukan observasi langsung untuk mendapatkan data-data yang berhubungan dengan penjualan tiket umroh pada PT. RONALDHITYA, serta pengamatan pada objek penelitian, dan penulis dapat mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan.
b. Metode Interview (wawancara)
Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara yang berhubungan dengan penulisan ini dengan pihak-pihak yang terkait pada PT. RONALDHITYA, dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dengan topik yang dibahas

1.6 Sistematika penulisan
Penulisan ilmiah ini di susun berdasarkan bab demi bab, di maksud agar lebih simple dan jelas. Adapan sistematika penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab pendahuluan ini penulis membagi dalam beberapa sub bab, yang masing masing adalah alasan pemilihan judul, pokok pembahasan masalah yang akan di bahas.
Bab II Landasan teori
Dalam bab II ini penulis akan menjabarkan definisi dari menajemen, definisi peramalan, fungsi peramalan.
Bab III Gambaran umum perusahaan
Dalam bab III ini penulis menjabarkan tentang sejarah singkat PT RONALDHITYA.
Bab IV Pembahasan Masalah
Di bab IV ini penulis menerangkan tentang pembahasan masalah yang berkaitan tentang metode forecast dalam perusahaan dan bagaimana cara perusahaan menghitung peramalan penjualan dalam perusahaanya.
Bab V Kesimpulan dan saran
Sampailah penulis menyajikan bab terakhir dari seluruh bab dalam penulisan ilmiah ini yaitu Bab V tentang kesimpulan dan saran. Penulis mencoba untuk menggambil kesimpulan dari apa yang telah di uraikan pada Bab-bab terdahulu dan juga penulis memberikan sedikit saran untuk membangun manajemen perusahaan PT RONALDHITYA menjadi lebih baik.

Jumat, 02 April 2010

diva  dk
Dibuat dengan teknologi yang tinggi maka terciptalah shampo DIVA anti ketombe.
5 Hal yang Mempengaruhi Kesehatan Rambut Pictures, Images and Photos